Aku akan menjelaskan pandangan pengarang dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk.
diambil dari segi ekonomi dan sosial, secara umum novel ini bersetting latar di Dukuh Paruk, dukuh yang masih berpenduduk sedikit dan kental dengan adat istiadat. Dukuh Paruk merupakan dukuh/desa yang miskin, diceritakan di novel bahwa masih banyak rumah penduduk disana yang beratap ilalang, bahkan anak Sakum pun diceritakan dengan mirisnya memakan serangga yang ada di sekitar rumahnya untuk menutupi rasa kelaparannya. Namun, berbeda jauh dengan keadaan si Ronggeng, mereka berada di tempat yang sama namun memiliki tingkat sosial yang berbeda.
Klimaks kehancuran Dukuh Paruk terjadi saat konflik komunis membakar Dukuh Paruk, namun warga disana tidak tau harus berbuat apa dan hanya bergantung pada Rasus.
Nah, kesimpulannya disini Ahmad Tohari sang penulis, menggambarkan bahwa dapat hancurnya ekonomi suatu daerah jika mayoritas penduduk disana tidak memiliki pendidikan atau keterbelakangan dan hanya memiliki satu sudut pandang saja untuk menjalani kehidupan (pasrah).
Penulis juga memberikan amanat kepada pembaca bahwa perkembangan akan terus terjadi dan tidak ada cara lain selain bergerak dan terus maju mencari pengetahuan.
Sekian Interpretasi Novel Ronggeng Dukuh Paruk yang ku kerjakan dalam beberapa menit di sekolah saat diberi tugas oleh Ibu Gaz Nurindah yang mengajar Bahasa Indonesia. semoga bermanfaat yoo :)
Komentar
Posting Komentar