Langsung ke konten utama

Olimpiade Sastra Nasional 2017



Tak dididik untuk terdidik


Nama pengarang: Cherry Rabiullan Sari
Diterbitkan        : Koran Radar Banjarmasin 
Edisi                  : 10 s/d 15 Agustus 2017

Pesawat Caca baru saja sampai di Banjarbaru, perjalanan dari Merauke ke Kalimantan memang jauh, “amboyyy, ramai sekali di Banjarbaru ini, jadi tak sabar pindah ke rumah baru” sorak Caca. Ia baru saja menyelesaikan pendidikannya di SMAN 1 Merauke, ia tinggal jauh dari orang tuanya. Ayahnya berkerja sebagai pengamat pendidikan, ibunya berkerja di Kantor Balai Bahasa di kota Merauke. Ironi, walaupun mempunyai keluarga lengkap ia merasa hidup yatim piatu. Tapi itu dulu, kini perjalanannya menuju Banjarbaru untuk merubah kehidupannya akan segera terwujud, mulai tahun ini ayahnya akan menjadi Rektor Universitas Lambung Mangkurat dan Ibunya juga akan berkerja di Kantor Balai Bahasa Kalimantan Selatan. Otomatis, Caca juga akan memulai kuliahnya di Universitas Lambung Mangkurat. Ingin rasanya Caca memeluk kedua orang tuanya, tapi mustahil. Kedua orang tuanya sangat dingin, sampai Caca tidak tahu harus bahagia atau sedih, sebenarnya Caca punya seorang kaka tapi sayang dia meninggal saat mengenyam pendidikan di sebuah Sekolah Kedinasan yang memang menerapkan kedisiplinan, namun apa benar semua itu hanya kecelakaan? Fenomena kekerasan memang tidak terjadi baru saja, rasanya Caca ingin menangis tak percaya apa yang sudah terjadi dengan kakanya. Persaingan demi negeri malah membuat mati.

Tiga bulan telah berlalu, Caca memasuki pertengahan semester dan Caca melakukan penelitian ke Sungai Tabuk. “Bang, ke sungai Tabuk, berapa?” tanya Caca kepada supir angkotnya “100.000 ding” sontak Caca terkejut “Hah? Mahal ihh” Supir tertawa “Hahaha, sungai tabuk itu jauh, syukur juga saya mau nganterin” Caca yang tidak mempunyai teman untuk menumpang hanya bisa menerima, lagipula ia harus menyelesaikan tugas itu minggu depan. Sesampainya di Sungai Tabuk, Caca melihat di sekeliling kampung itu banyak anak-anak yang bermain di sungai, padahal ini adalah jam sekolah, dan Caca melihat ada seorang anak lelaki tidak ikut bermain dengan teman-temannya, ia membaca buku “sepertinya sedang belajar” pikir Caca.

            “ading, sudah sampai alamatnya” Caca bangun dari pikirannya dan memberi upah ke supir itu. Caca hanya membawa satu koper yang berisikan baju juga peralatan tulisnya untuk tiga hari. Ia menginap di salah satu rumah nenek yang mempunyai cucu laki-laki, di kampung biasa dipanggil nenek Piyam, dan ternyata cucu itu adalah anak laki-laki yang ia lihat di perjalanan tadi. “Hay selamat datang kak” Sapa anak itu kepada Caca, “Hay adik, kamu tadi yang membaca buku di pinggir sungai itu kan?” Caca tersenyum “Wah, kaka melihat aku ya, betul kak”. Caca diantar oleh nenek piyam. Caca beristirahat sebelum memulai penelitiannya besok tentang “keseimbangan dan pemerataan pendidikan di Indonesia”. 

Fajar kembali menyapa, lagi-lagi ia melihat cucu nenek Piyam sedang membaca buku, Caca pun mendatanginya “Hay adik, maaf ya kaka lupa nanya siapa nama mu?” anak laki-laki itu menjawab “kadapapa kak, ulun tau pian lagi keuyuhan, nama ulun Petir” awalnya Caca sedikit bingung apa yang telah dikatakan oleh anak laki-laki tersebut, yang terpenting sekarang ia tahu nama cucu nenek Piyam adalah Petir. “Kamu engga sekolah?” tanya Caca penasaran yang melihat banyak teman Petir sedang bermain memakai seragam sekolah. “hmm, aku dikeluarkan dari sekolah ka, nenek tidak mampu membayar uang SPP” sontak Caca terkejut dan mengernyitkan dahinya “Hah? Bukannya kamu masih SD? Harusnya SD itu gratis loh” Petir yang mendengar itu hanya diam, Caca penasaran dan ingin menjadikan kehidupan Petir sebagai objek penelitiannya. Mereka berdua diam, tak lama Petir angkat bicara “Betul kak, harusnya gratis. Tapi sekolah swasta kan tidak. Disini tidak ada sekolah negeri” Caca yang mendengar itupun tidak heran, karena ia pernah membaca kabar berita tentang kurangnya pemerataan pendidikan di pelosok, jarangnya sekolah negeri yang didirikan di kampung membuat para warga disini membuat sekolah sendiri, dan pastinya meminta biaya yang tidak sedikit bagi warga kampung Sungai Tabuk, hanya mereka yang mempunyai pangkat lebih yang bisa bersekolah di kampung ini “Begitu ya” tutup Caca. Caca mengajak Petir untuk jalan-jalan dan tidak tanggung juga untuk melihat kondisi sekolah yang mengeluarkan Petir hanya karena biaya. Disana Caca tidak melihat perbedaan sekolah itu dari sekolah negeri di kampung lain. Sama-sama dari kayu dan pastinya tidak ada permainan ayunan, seluncuran seperti sekolah negeri di kota.

Senja kembali hadir, sesampainya di rumah nenek Piyam, Caca melihat selembaran kertas berisikan puisi, tulisan yang seakan meronta dan meminta keadilan kepada Tuhan Yang Maha Esa,
Katanya aku sudah benar, aku sudah jujur
Kenapa belum juga mujur?
Seakan-akan minta ulur.
Yang tenar juga benar
Tapi sayang dibenar-benarkan
Cambuk biar tauk
Bagaimana rasanya dicaluk
Pukul saja biar tau betul
Bagaimana rasanya memikul
Karena hidup bukan tentang diri
Tapi hidup tentang memuji sang pencipta dunia ini

Caca berdecak kagum dan tersentuh hati, bisa dipastikan puisi ini tentang kejujuran, “tapi puisi siapa? Apa benar ini adalah tulisan Petir? Siapa yang tidak jujur? Anak seusianya bisa membuat puisi sebagus ini?” pikir Caca penuh tanya dalam hati.

Hari terakhir Caca berada di rumah nenek Piyam, ia mendapat banyak pelajaran, tapi ia tidak melihat Petir, biasanya setiap pagi, Petir mengajaknya berkeliling kampung, kata nenek, Petir sedang memancing hari ini. Caca ingin sekali mencari ia dan berpamitan dengannya tapi waktu Caca tidak cukup.
Caca diantar oleh ojek yang disarankan ketua RT, hampir saja Caca melewatkan Petir yang sedang duduk bersantai di pinggir sungai tepat di bawah bangunan sekolah yang mengeluarkannya. Caca meminta untuk berhenti dan menghampiri Petir “Petir, ngapain kamu disini? Hari ini kaka pulang loh!” Petir terperangah dan mengangkat kedua jarinya berbentuk V yang artinya peace atau damai. “aku sedang memancing kak” , “hah? Memancing disini? Gak salah? Memangnya ada ikan?” “hehe” senyum Petir sekilas. Seketika Caca paham saat mendengarkan sebuah penjelasan dari guru yang berada diatas mereka, Petir bukan mencari ikan, ia mencari ilmu untuk terdidik. “Oh iya, kaka hampir lupa, ini puisi siapa?” Tanya Caca sambil menyodorkan secarik kertas kumal “ah kaka mendapatkan dimana?” Caca pun tertawa dan mempunyai ide, “siapa yang tidak jujur Petir? Siapa yang kamu maksud?” Petir tidak tau harus menjawab apa, “anu... dia.. dia yang mengeluarkan ku karena disogok” ulas Petir “berceritalah” rayu Caca.

 “saat sekolah dulu aku selalu dimarahi oleh guru ku itu karena tidak bisa membayar kewajiban ku, katanya aku tidak ada gunanya bersekolah, karena pada akhirnya aku akan menjadi kuli di kampung atau bertani, guru itu senang jika diberi sesuatu. ketika teman ku memberi uang atau barang lainnya kepada guru itu, sang guru akan menaikkan nilainya dan memuji-muji teman ku tapi aku ingin tetap bersekolah agar aku bisa menjadi orang sukses dan membuat perubahan Indonesia di mata dunia” Petir terus bercerita sehingga Caca mengerti keadaan di kampung itu dan keadaan Petir. “tapi puisi mu bagus sekali” puji Caca.

            Petir berterima kasih “Iya ka, setiap pagi aku memancing untuk mendengarkan penjelasan guru dan saat bermain dengan teman-teman aku suka membaca buku kumpulan puisi karya Chairil Anwar, dan itu adalah salah satu puisi pertama ku tentang protes ku terhadap dunia” Caca kembali berdecak kagum dan ia ingat ada lomba mengarang puisi di Balai Bahasa Kalimantan Selatan, kebetulan pendaftarannya baru dibuka “Bagaimana kalau kamu ikut kaka pindah ke Banjarbaru? Ada lomba mengarang puisi disana, yang menang dapat beasiswa sekolah” Petir terlihat lemas, ia memikirkan neneknya, syukurnya Caca paham. “Tenang saja, nenek akan pindah bersama mu, mungkin kamu harus berpamitan dulu dengan teman-teman.”

Seminggu berlalu, lomba mengarang puisi dimulai. Kini Petir dan neneknya tinggal di Banjarbaru, Caca pun sudah mengadukan semua keluhan warga di kampung kepada ayahnya agar bisa disampaikan ke Pemerintah pusat, tentunya kepada ibunya juga. Petir mengikuti lomba dengan tenang, Petir mendapat juara 3, suatu pencapaian yang sangat bagus. namun, ia tidak mendapatkan beasiswa sekolah, walaupun begitu ayahnya tetap menyekolahkan Petir, “Terima kasih banyak ya Kak Caca, kaka dan keluarga adalah orang yang mempengaruhi hidup ku” Caca tersenyum dan membalas “dan semoga kamu bisa berpengaruh terhadap dunia”

Di sekolah, Petir menjadi anak yang berprestasi, bahkan ia mengikuti study banding ke luar negeri. Dan petir pun terpilih untuk memberikan sambutan kepada hadirin sebelum ia berangkat “Agar tak menjadi penonton di negeri sendiri, warga Indonesia harus bisa bersaing dengan warga dari belahan dunia lain. Generasi penerus harus mampu mengoptimalkan kemampuan diri dengan caranya masing-masing dalam menyikapi persaingan global.” Begitu sambutan dari Petir yang membuat Caca terkagum untuk kesekian kalinya, dan menyadarkan Caca bahwa semua anak bisa sekolah jika dia berjuang tanpa lelah walaupun tidak dididik namun terdidik.

Cerpen ini ku buat dalam rangka mengikuti lomba olimpiade sastra nasional 2017, kritik dan saran ditunggu ya! :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerpen "Cahaya Rumah"

Alur    : Maju mundur Karya  : Cherry Rabiullan Sari Diterbitkan: Koran Radar Banjarmasin Edisi : 24 - 27 April 2017 Salah satu edisi koran Radar Banjarmasin Cahaya Rumah Kukuruyukk.. ayam sudah berkokok dan Cahaya belum juga bangun, “Cahh, bangunn! Shalat subuh dulu” teriak ibu Cahaya. Guling-guling segera disingkirkan Cahaya yang jiwanya masih setengah terkumpul untuk beranjak berwudhu, adik Cahaya bernama Cahyu datang ke kamar “molor muluu mentang-mentang libur” Cahaya cuek dengan ocehan adiknya yang super jail itu. terdengar suara Ayah Cahaya yang merdu sedang mengaji di ruang tamu, menenangkan sekali. Ya, setiap selesai sholat, Ayah Cahaya selalu mengaji. Terlebih lagi ketika ekonomi Cahaya yang sedang memburuk, dulunya Cahaya adalah anak yang berkecukupan lebih, Ayah Cahaya adalah seorang supervisor  di salah satu perusahaan ternama, dan Ibu Cahaya punya toko sembako. Tetapi suatu hari perusahaan ayah Cahaya bangkrut dan ay...

Masa Lalu

 Aku tak pernah tau apa yang terjadi pada kehidupan mereka Aku tak pernah merasakan jadi orang lain, Ketika aku lelah, memberi ruang dan waktu adalah alternatif untuk merasakan hal yang nyata di hidup. Tak sengaja, hujan itu gugur mendatangi tanah. air mata itu jatuh di pipi. Masa lalu.. Setiap orang memiliki masa lalunya sendiri, kita hanyalah manusia yang terluka, terbiasa berpura-pura tertawa, seakan tak ingin seluruh dunia mengasihaninya. Bodohnya, setiap manusia itu benar-benar berbeda namun tak pernah disadari. Sadari ia bukanlah dia. aku bukanlah kamu. mereka bukanlah kita. Sifat setiap manusia itu berbeda, aku yakini hal itu karena masa lalu. Masa lalu atau perjalanan hidup benar-benar berperan terhadap masa depan Memang setiap orang mampu membuat tembok antara masa lalu ia dengan masa kini, namun menurut ku itu hanya untuk tujuan hidupnya. Dalam perjalanan hidup, setiap kita akan selalu membawa masa lalu itu, dalam artian akumulasi dari segala kejadian yang telah lalu. Mas...

Review Text about Painting

The Storm Painting Painted by             : Raden Saleh Genre                    : Romantisme             We like this painting because it has a good mean and easy to understand by every person who see this painting but the painting has dark colour, so the ships not obvious.             This painting is made on 1851 with oil paint on canvas with size 97 x 74 width. The tittle of this painting is “Badai” or “The Storm” with the genre romantisme. Actually, in this painting, the painter want to tell his feeling that confused between desire to live and ideal imagination world and real life that complicated.             In the storm painting, we can look how Raden Saleh tell...