Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2019

Untuk yang baru saja kehilangan

Bayang yang berdiri diantara aku dan tanah, hitam dan terus mengikuti cahaya matahari membuat bayang-bayang menjadi nyata, lampu rumah juga berbuat demikian hingga kegelapan , bayang malah meninggalkan ketika terang ia ada, ketika gelap ia purna. Kamu yang menemaniku saat badai hingga hujan mendera, kamu selalu ada. di samping, di belakang hingga di depan, kau punya peran seperti bayang-bayang. diam namun terlihat, cerminan diri namun tak bersentuhan. Perasaan itu antara ada dan tiada, pertemuan hati yang terlalu singkat dan perjalanan jiwa yang teramat membahagiakan, namun perpisahan terjadi begitu cepat. Aku belum siap kehilangan bayang-bayang, aku belum siap kamu hilang di kegelapan. Aku jiwa yang dibangun oleh tembok yang retak, mudah hancur sulit diperbaiki. Jiwa yang begitu seperti puzzle yang tak akan pernah selesai ketika satu bagiannya hilang. Begitulah keadaan ku saat ini, entah aku merindukan mu atau aku yang merasa kehilangan, Aku merasa ini adalah...

Berkarya itu ga cuma tentang hiburan

Bagi ku berkarya itu banyak makna, maksimalkan aksi, minim wacana. membuat karya tidak perlu harus punya gear yang mahal, bagus, dan lengkap. Berkarya lebih dari itu, bukan tentang hiburan, ini tentang pemaknaan diri manusia. Menurut ku, berkarya itu mampu mengubah dunia. Dunia yang sangat dinamis ini perlu untuk diberi solusi. Berkarya tidak hanya berhubungan dengan dunia digital, berkaryalah dengan otak. Buatlah suatu usaha, produk atau solusi bagaimana berinteraksi dengan manusia lainnya. Berkarya lebih dari sekedar mencari objek nyata untuk difoto lalu dibagikan lewat video. Berkarya lebih dari sekedar memegang kamera, tripod atau berbicara di depan layar. Berkarya lebih dari itu, berkarya itu suatu aksi dimana semua manusia mampu mengimplementasikan nilai-nilai kehidupannya. Berkarya itu banyak macamnya, duduk di tengah senja sembari mengaduk adunan roti, itu karya. Duduk di halaman sembari hirup uap panas kopi, hingga akhirnya mampu menemuka...

Semuanya ingin diakui, namun tidak semuanya mengakui

Kali ini, berbicara yang lebih serius. opini ku tentang KITA.  bukan soal cinta, tapi KITA sebagai MANUSIA. Di dalam kehidupan ini, semakin tua semakin sadar bahwa selama ini manusia lebih banyak mengejar gengsi ketimbang pahala, lucu tapi nyata. ketika yang cantik terlihat menarik, yang baik belum tentu tertarik. semuanya berbanding terbalik, hingga akhirnya setiap wanita berlomba membeli barang untuk muka, dan pria membeli pomade untuk gaya.  kenapa uangnya ga dipakai untuk beli banyak makanan, lalu dijual? ah, jarang pakai logika. Semua manusia punya potensi yang sama, semua manusia mampu menjual dirinya, menjual otaknya, menjual ototnya, namun dengan harga yang berbeda. Menjual disini dalam konteks 'we deserve to be what we want'  Semua manusia berlomba menjadi yang terbaik, meraih prestasi gemilang untuk menaikkan derajat dan tentunya diakui. Menjadi yang berarti bukan semata-mata iseng atau strata. Bagiku, menjadi seseorang yang berar...