Alur : Maju mundur
Karya : Cherry Rabiullan Sari
Diterbitkan: Koran Radar Banjarmasin
Edisi : 24 - 27 April 2017
Cahaya Rumah
Kukuruyukk.. ayam sudah berkokok dan Cahaya belum juga bangun, “Cahh, bangunn! Shalat subuh dulu” teriak ibu Cahaya. Guling-guling segera disingkirkan Cahaya yang jiwanya masih setengah terkumpul untuk beranjak berwudhu, adik Cahaya bernama Cahyu datang ke kamar “molor muluu mentang-mentang libur” Cahaya cuek dengan ocehan adiknya yang super jail itu. terdengar suara Ayah Cahaya yang merdu sedang mengaji di ruang tamu, menenangkan sekali. Ya, setiap selesai sholat, Ayah Cahaya selalu mengaji. Terlebih lagi ketika ekonomi Cahaya yang sedang memburuk, dulunya Cahaya adalah anak yang berkecukupan lebih, Ayah Cahaya adalah seorangsupervisor di salah satu perusahaan ternama, dan Ibu Cahaya punya toko sembako. Tetapi suatu hari perusahaan ayah Cahaya bangkrut dan ayah cahaya di PHK membuat tidak stabilnya ekonomi keluarga Cahaya, ditambah lagi banyaknya utang keluarga Cahaya di bank yang menumpuk membuat Cahaya dan keluarganya harus menjual rumah satu-satunya yang mereka miliki, termasuk toko sembako yang bangunannya disamping rumah.
“Bu, kenapa kita harus jual rumah bu? Kita mau tinggal dimana?” resah Cahaya yang membuat ibunya hanya bisa menghela nafas, “Cahaya, rejeki gak kemana nak” Cahaya pun pergi ke luar rumah untuk mencari udara segar, dia melihat sekeliling rumahnya dan mengingat kenangan-kenangan yang ada di dalam rumah ini, sejak Cahaya berumur 8 tahun. Mulai belum ada listrik di kompleknya, dan banyak anjing besar yang sering mengambil sendalnya juga anjing-anjing yang mengejar dia dengan sepupunya Shila saat keliling komplek, sampai jalan di komplek ini sudah diaspal. Ayah Cahaya keluar dan membawa secarik kertas bertuliskan “Rumah dijual” Cahaya tidak ingin melihatnya dan masuk ke dalam kamar. Dulu, Ayah Cahaya kurang bisa mengaji begitupun juga dengan ibunya yang selalu teriak-teriak ketika Cahyu adiknya tidak mematuhi kata-kata Ibu, saat itu Facebook sedang meraja lela, Cahaya bukanlah anak kecil lagi, setiap jaga toko dia memainkan komputer dan meminjam modem ayahnya untuk membuka facebook, Cahaya menjadi lupa waktu dan prestasinya pun menurun, sampai suatu ketika ayah Cahaya tidak mengijinkan lagi Cahaya meminjam modem, Cahaya pun sedih sekaligus marah di dalam hatinya, dia tidak bisa membendung kelabilan emosinya. “Cahayaa, ibu pergi dulu ya sama ayah dan Cahyu ke pasar” Cahaya menjawab “Iya buu” lalu bertanya “sampai jam berapa bu?” Ibu Cahaya heran “kira-kira sampai jam tiga siang”. Yap, Cahaya sendirian lagi di rumah, keluarganya hanya memiliki satu buah motor yang tidak bisa dinaiki empat orang sekaligus, lagipula Cahaya sudah besar, ia malu harus duduk di depan ketika bepergian, jadi Cahaya lebih memilih tidak ikut.
Diam dan membaca buku atau menonton tv adalah pekerjaan yang membosankan di hari libur, tiba-tiba terbesit niat licik yang membuat Cahaya ingin mengambil modem ayahnya dan membuka facebook. Modem itu disembunyikan oleh ayahnya “haduhh dimana yaa” dan Cahaya pun mendapatkannya “ahaa!” ia segera membuka laptop dan bermain hingga pukul 3 siang, berhari-hari ia melakukan itu dengan sembunyi-sembunyi. Namun, sepandai-pandainya tupat melompat pasti jatuh juga, sepandai-pandainya Cahaya berbohong, ketahuan juga. “Cahaya! Kamu menghabiskan kuota ayah kan?!” cahaya terkejut dan tidak memikirkan hal itu “anuu, yahh.. ituu” “sudah! Kamu berani sekali berbohong dengan kedua orang tua mu!” dari situlah Cahaya tidak berani lagi berbicara dengan ayahnya dan mengambil modem lagi.
Sudah 6 bulan sejak iklan rumah Cahaya dipajang, masih belum juga ada yang jadi membelinya. “Bismillahirrahmaanirrahiim...” ketika mengalami perjalanan hidup yang berliku ini, ayah sering mengaji, ibu juga sudah tidak suka teriak lagi. Ketika Cahaya menonton tv, Ayah bertanya “sudah sholat belum?” “sudah” jawab Cahaya. “nak, hidup memang ga semulus yang kita inginkan, ayah sadar semua ini adalah akibat kelalaian ayah dalam beragama, kita diberi cobaan dan kita harus bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk bertaubat dan menyadarinya, yang terpenting dalam hidup ini adalah bersyukur dan taat beragama, apa yang terjadi di masa kini adalah akibat apa yang kita lakukan di masa lalu, berdoalah semoga kita diampuni dan diberi nikmat oleh-Nya lebih besar lagi, yakin lah” nasehat ayah. Cahaya yang termenung akhirnya menyadari, semua kepahitan di dalam hidupnya ini memberi hikmah yang sangat besar kepada keluarganya, ia pun punya ide.
“ka siti, bisa bantu aku ga? Nyebarin brosur?” Pinta Cahaya “bisa dek”, Siti adalah tetangga sekaligus kaka kelasnya di sekolah. Cahaya membuat iklan rumahnya untuk dipajang ke seluruh penjuru kota, di tiang-tiang listrik bahkan di toko-toko. “emang kamu mau pindah kemana?” tanya Siti, Cahaya menjawab “Masih Allah yang tau kak” darisitu pun Siti mengerti.
Malam harinya, Cahyu ingin sekali makan ikan panggang “Yahh, makan ikan panggang yukk” beberapa minggu ini Cahaya sekeluarga hanya makan telur dadar atau mie. Ayah sempat bingung karena ikan panggang harganya mahal “Oke, ayo siap-siap” sahut ayah. Cahaya pun setuju dan bersiap-siap, ia duduk di depan dan sambil menundukkan kepala, agar tidak menghalangi pandangan ayah ke jalan. Sesampainya disana, mereka hanya memesan ikan panggang 1 porsi, di perjalanan pulang hujan mengguyur, syukurnya ada jas hujan dan ayah berbicara “jadikan ini sebuah kisah perjuangan kalian ke anak-anak kalian nanti, betapa susahnya mencari makan” Cahaya pun tersenyum.
*triingg-triingg* ayah yang sedang mengaji pun berhenti dan mengangkat telepon. Ayah terlihat bahagia saat itu tetapi Cahaya tidak berani menanyakan ada apa. Hari demi hari, minggu demi minggu setelah telepon itu, ayah jarang di rumah dan datang larut malam, Cahaya tak lagi mendengar suara ayah yang merdu. “ayah kemanaa?” tanya hati Cahaya gelisah. Ibu pun tidak mengatakan apa-apa. Cahaya takut jika terjadi apa-apa dengan ayah, rasanya di rumah ini tidak ada lagi yang menerangi. Dan suatu malam terdengar suara mobil “ayaah!”. Ayah datang ke rumah membawa mobil, “mobil siapa yah?” tanya Cahyu “mobil kita” jawab ayah, “hah? Apa?” Cahaya terkejut dan tidak percaya “Gak percaya yaa.. iyaa ini mobil kitaa”, “lalu kemana ayah selama ini? Ayah jadi jarang sholat dan mengaji di rumah” Cahaya memberanikan diri, ayah pun tersenyum “ayah berkerja nak, ayah dipanggil perusahaan yang sudah ayah lamar sejak lama, dan mobil ini dari undian kopi sachet yang sudah kita kumpulkan beberapa tahun”.
Ternyataa, selama ini ayah bekerja, dan alasan ibu selalu membeli kopi adalah untuk ini. “sepertinya kita tidak jadi menjual rumah” sanggah ibu. Hanya satu kalimat yang ada di hati Cahaya “Alhamdulillah” Cahaya sungguh bahagia. Sesungguhnya cahaya rumah Cahaya tidak pergi, hanya meredup sementara mencari energi agar mendapat cahaya yang lebih terang. Ayah, Ibu dan Cahyu adalah pemberi cahaya di kehidupan Cahaya dan rumah Cahaya.

Komentar
Posting Komentar