Langsung ke konten utama

Untuk yang baru saja kehilangan


Bayang yang berdiri diantara aku dan tanah, hitam dan terus mengikuti
cahaya matahari membuat bayang-bayang menjadi nyata, lampu rumah juga berbuat demikian
hingga kegelapan , bayang malah meninggalkan
ketika terang ia ada, ketika gelap ia purna.

Kamu yang menemaniku saat badai hingga hujan mendera, kamu selalu ada.
di samping, di belakang hingga di depan, kau punya peran seperti bayang-bayang.

diam namun terlihat, cerminan diri namun tak bersentuhan.

Perasaan itu antara ada dan tiada, pertemuan hati yang terlalu singkat dan perjalanan jiwa yang teramat membahagiakan, namun perpisahan terjadi begitu cepat.

Aku belum siap kehilangan bayang-bayang, aku belum siap kamu hilang di kegelapan.

Aku jiwa yang dibangun oleh tembok yang retak, mudah hancur sulit diperbaiki.

Jiwa yang begitu seperti puzzle yang tak akan pernah selesai ketika satu bagiannya hilang.

Begitulah keadaan ku saat ini, entah aku merindukan mu atau aku yang merasa kehilangan,

Aku merasa ini adalah hal yang salah, ketika hati mu menyetujui untuk berpisah.

Untuk mu yang baru kehilangan bayang mu sendiri, relakan.

dirimu tidak akan selalu dalam kegelapan,

cahaya baru akan menerangi, berdiri !

kamu pantas berada disini, di tempat kamu menjadi diri sendiri.

menjadilah lebih baik, bagaimanapun bayang-bayang pasti mengikuti, bukan menghancurkan diri sang putri.

Komentar

  1. Dan semoga pedihnya kehilangan bisa berubah menjadi kenangan manis yang tak terlupakan ^^
    ---(ngutip dari buku Soe Isabel by M. Tiyasaa)

    BalasHapus
  2. Kelak akan ada waktunya kamu akan berterimakasih pada kehilangan karena telah menjadikanmu lebih kuat ^^

    BalasHapus
  3. Kehilangan itu memang pedih, menyakitkan, bahkan meninggalkan luka yang mengangga. Biarkan. Waktu akan datang. Dia adalah penawar akan segalanya.

    BalasHapus
  4. Kehilangan terkadang mengajarkan banyak hal, meskipun membuat sakit sebentar namun lama-kelamaan juga mengajarkan artinya keikhlasan. Semoga bagaimanapun kita kehilangan, tapi kita dapat menjadikannya sebuah pelajaran.

    BalasHapus
  5. Mantap nih puisinya. Sudah punya antologi puisi sendiri?

    BalasHapus
  6. Dan dimana ada pertemuan, disitu ada perpisahan, dan selalu ada pelangi sehabis hujan :)

    BalasHapus
  7. proses perpisahan dan kehilangan pastinya akan mendewasakan diri kita

    BalasHapus
  8. Bener deh, kenangan hanyalah kenangan sih. Bayangan yg lalu biarlah berlalu yang mengingatkan kita tanpa menghalangi jalan kita ke depan.

    BalasHapus
  9. Baca ini tuh jadi keingat blog lama aku yang isinya fiksi semua kayak gini juga de. Teruslah berkarya. tulisannya bagus.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerpen "Cahaya Rumah"

Alur    : Maju mundur Karya  : Cherry Rabiullan Sari Diterbitkan: Koran Radar Banjarmasin Edisi : 24 - 27 April 2017 Salah satu edisi koran Radar Banjarmasin Cahaya Rumah Kukuruyukk.. ayam sudah berkokok dan Cahaya belum juga bangun, “Cahh, bangunn! Shalat subuh dulu” teriak ibu Cahaya. Guling-guling segera disingkirkan Cahaya yang jiwanya masih setengah terkumpul untuk beranjak berwudhu, adik Cahaya bernama Cahyu datang ke kamar “molor muluu mentang-mentang libur” Cahaya cuek dengan ocehan adiknya yang super jail itu. terdengar suara Ayah Cahaya yang merdu sedang mengaji di ruang tamu, menenangkan sekali. Ya, setiap selesai sholat, Ayah Cahaya selalu mengaji. Terlebih lagi ketika ekonomi Cahaya yang sedang memburuk, dulunya Cahaya adalah anak yang berkecukupan lebih, Ayah Cahaya adalah seorang supervisor  di salah satu perusahaan ternama, dan Ibu Cahaya punya toko sembako. Tetapi suatu hari perusahaan ayah Cahaya bangkrut dan ay...

Masa Lalu

 Aku tak pernah tau apa yang terjadi pada kehidupan mereka Aku tak pernah merasakan jadi orang lain, Ketika aku lelah, memberi ruang dan waktu adalah alternatif untuk merasakan hal yang nyata di hidup. Tak sengaja, hujan itu gugur mendatangi tanah. air mata itu jatuh di pipi. Masa lalu.. Setiap orang memiliki masa lalunya sendiri, kita hanyalah manusia yang terluka, terbiasa berpura-pura tertawa, seakan tak ingin seluruh dunia mengasihaninya. Bodohnya, setiap manusia itu benar-benar berbeda namun tak pernah disadari. Sadari ia bukanlah dia. aku bukanlah kamu. mereka bukanlah kita. Sifat setiap manusia itu berbeda, aku yakini hal itu karena masa lalu. Masa lalu atau perjalanan hidup benar-benar berperan terhadap masa depan Memang setiap orang mampu membuat tembok antara masa lalu ia dengan masa kini, namun menurut ku itu hanya untuk tujuan hidupnya. Dalam perjalanan hidup, setiap kita akan selalu membawa masa lalu itu, dalam artian akumulasi dari segala kejadian yang telah lalu. Mas...

Review Text about Painting

The Storm Painting Painted by             : Raden Saleh Genre                    : Romantisme             We like this painting because it has a good mean and easy to understand by every person who see this painting but the painting has dark colour, so the ships not obvious.             This painting is made on 1851 with oil paint on canvas with size 97 x 74 width. The tittle of this painting is “Badai” or “The Storm” with the genre romantisme. Actually, in this painting, the painter want to tell his feeling that confused between desire to live and ideal imagination world and real life that complicated.             In the storm painting, we can look how Raden Saleh tell...