opini ku tentang KITA.
bukan soal cinta, tapi KITA sebagai MANUSIA.
Di dalam kehidupan ini, semakin tua semakin sadar bahwa selama ini manusia lebih banyak mengejar gengsi ketimbang pahala, lucu tapi nyata. ketika yang cantik terlihat menarik, yang baik belum tentu tertarik. semuanya berbanding terbalik, hingga akhirnya setiap wanita berlomba membeli barang untuk muka, dan pria membeli pomade untuk gaya.
kenapa uangnya ga dipakai untuk beli banyak makanan, lalu dijual? ah, jarang pakai logika.
Semua manusia punya potensi yang sama, semua manusia mampu menjual dirinya, menjual otaknya, menjual ototnya, namun dengan harga yang berbeda.
Menjual disini dalam konteks 'we deserve to be what we want'
Semua manusia berlomba menjadi yang terbaik, meraih prestasi gemilang untuk menaikkan derajat dan tentunya diakui.
Menjadi yang berarti bukan semata-mata iseng atau strata. Bagiku, menjadi seseorang yang berarti itu salah satu tujuan ku dilahirkan. Namun sayangnya, ketika kita sudah mampu menjadi seorang yang berarti dan berharap diakui, kita malah terjerembab dengan rasa kecewa. kenapa? karena nyatanya kita tidak diakui.
sering? atau pernah?
Faktanya, manusia punya masalahnya sendiri, target tujuan yang berbeda, setiap manusia ingin diakui keberadaanya demi eksistensi diri. dan manusia lainnya? Ya sama.
jadi, untuk apa minta diakui oleh lainnya, cukup Tuhan saja. kalau mereka juga tidak peka.
lalu, untuk apa aku menulis ini? hanya ingin memberitahu, gak penting manusia lain mengakui kita atau tidak, tapi setidaknya kita (khususnya pembaca blog saya) menjadi manusia yang berempati dan bersimpati dengan manusia lainnya. memberi apresiasi itu sama saja memberi suntikan semangat yang tinggi, tanpa sadar apresiasi memberikan sugesti hingga manusia menjadi saling menghargai dan mencintai.
Memang prestasi itu gunanya untuk diakui, namun tidak semuanya sadar kalau manusia harus mengakui prestasi manusia lainnya. tak ada yang terbaik, semua manusia punya potensi yang sama.
kodratnya, memang manusia punya gengsi.

memang 'manuasiawi' banget menusia ingin diakui.
BalasHapusdan masalah 'mengakui' itu kembali ke diri orang lain. do the best aja ^^
Setuju..semua manusia memiliki potensi. Temukan dan kembangkan harta terpendammu.
BalasHapusWajar jika manusia ingin tmpil yg terbaik karena mungkin jg mreka sdh bkerja keras agar apa hal yg mreka inginkan bisa trcapai dan bkn skedar utk gengsi tp mmg untuk rewards atas dri mreka sndiri hehe
BalasHapusManusia mmg punya tabiat untuk diakui, dan tdk jarang demi itu, semua cara dilakukan. Namun, jka tak terwujud tak sdkt yang kecewa.
BalasHapusKuncinya, banyak2 menghargai org lain apapun itu, adlh salah satu bentuk pengakuan ��
Menjadi manusia yg berguna dan meninggalkan kesan jg salah satu keinganan ku. Hehe..tapi memang selama masih didunia berjuang untuk mendapat pengakuan itu akan tetap menjadi hal yg wajar ��
BalasHapushasil kontemplasi ya? kesannya dalem banget. paling terjerembab itu kalo udah capek2 ngusulin beberapa judul skripsi tapi gak ada yang disetujui oleh dosen, kesannya nggak mengakui kalo kita udah susah payah untuk itu. life is hard. kl agama kita udah kasih sangu untuk bertahan, banyakin solat tahajud. kitanya aja lagi mampu atau ngga menjalankannya.
BalasHapusdi era medsos sekarang kayaknya semua orang ingin dilihat dan diakui dengan berbagai cara. entah itu yang positif atau negatif. tapi bagusnya sih kalau apa yang kita sampaikan bisa bermanfaat buat orang lain
BalasHapusAgree! Manusia memang dari sononya diciptakan mempunyai gengsi dan aku juga percaya dari sananya manusia itu egois. Tinggal bagaimana kita mengelolanya saja.
BalasHapus