Langsung ke konten utama

Kejujuran membawa berkah

Singkat aja sih ceritanya, jadi gini.. tadi aku habis nanyain temen-temen di instagram tentang 'apa sih yang udah di dapat selama sekolah 12 tahun?' Berhubung saat ini aku udah kelas 12 dan sebentar lagi lulus. Aku jadi sering nanya sama diri sendiri 

"Buat apa sih sekolah?"

"Penting ga sih sekolah?"

"Percuma ga sih sekolah sedangkan pelajaran aja cuma sedikit yang nyantol"

Dan pertanyaan galau lainnya yang bikin aku semakin mencari ilmu yang ku dapat dari SD sampai SMA yang sekarang sedikit demi sedikit hilang ditelan malam. *apaan sih*

Ya maksud ku, ga cuma aku yang mikir kayagitu. Banyak dari temen-temen aku juga mikir hal yang sama, apalagi aku yang ada di jurusan IPA dan pas mau lulus merasa passionnya bukan di IPA. Inilah bukti kalau manusia itu kompleks banget dan mungkin banyak banget dari kita belum nemuin jati diri kita. Oke, aku ga bakal nulis tentang jati diri, tapi aku ingin nulis tentang sekolah. Iya sekolah yang kita anggap ngebosenin banget.

Aku juga bukan anak terpintar di sekolah, prestasi gitu-gitu aja... aku termasuk anak yang mudah pasrah sama keadaan, tapi punya motivasi tinggi. Duh, gimana itu ya wkwkwk. Yang jelas aku sedang melakukan perubahan biar ga gampang pasrah, kaya kalian yang sedang baca ini, ga ada nyerahnya mau baca tulisan panjang tanpa gambar dari seseorang yang bukan siapa-siapa. Menurut ku, sekolah engga cuma tentang prestasi akademik kok.. berdasarkan wawancara ku ke orang-orang (random), "ilmu apa yang didapatkan setelah 12 tahun bersekolah?" dan cuma 1 dari 12 orang yang jawab ada unsur biologinya. Lalu 11 orangnya jawab apa? Ya mereka jawab pengalaman dan hal yang mereka alami selama sekolah, dan kebanyakan tentang kenakalan. Bagi ku, itu cara manusia untuk belajar dari praktek, belajar dari kesalahan-kesalahan mereka saat sekolah, belajar tentang hidup intinya.



 Jadi, sebenarnya sekolah itu untuk hidup, bukan hidup untuk sekolah.

Tapi kalian paham ga sih arti dari kedua perbandingan itu? Sekolah untuk hidup adalah cara kita memaknai sekolah sebagai cara kita untuk meneruskan hidup. Dari sekolah kita mengenal Al-qur'an, dan disini bukan hanya sekolah yang bergedung mewah dan ada gurunya, BUKAN. Sekolah untuk hidup itu bisa dimana aja, di rumah pun bisa disebut sekolah, gurunya adalah orang tua kita. Begitu juga TPA biasanya disebut TK Ngaji. Dari kecil kita sudah mendapatkan pedoman hidup, darimana? Ya kita tau dari sekolah. Sekolah dalam artian ini engga cuma tentang sekolah formal. Makanya banyak orang-orang sukses yang katanya tidak sekolah formal atau tidak selesai sekolah formal, tapi realitanya mereka tetap belajar dengan pedoman-pedoman hidup yang sudah ada.. artinya mereka tetap bersekolah untuk hidup. Niatnya mendapatkan ilmu untuk hidup.

Trus apa bedanya dengan hidup untuk sekolah?

Menurut ku, opini ku, pendapat ku, yang dimaksudkan hidup untuk sekolah adalah menyerahkan kehidupan kita untuk sekolah. Niatnya hidup untuk mendapatkan kepuasan/nilai di sekolah. Salahnya dimana? Salahnya ya berarti kita memprioritaskan sekolah kita daripada pedoman hidup kita. Contohnya: menyontek. Mungkin bagi mereka menyontek hal yang biasa, tapi sadar ga sih? Apa coba hasil dari menyontek? Kita udah ngorbanin hidup kita (berdosa) buat dapetin sekolah itu. Ingat, kita sekolah cari berkah ilmunya.. So? Ya kita udah ga pinter dapat dosa lagi, ujung-ujungnya nilainya jelek juga.. ya syukur sih kalau bagus nilainya... tapi aku inget kata guru aku, waktu itu selesai UN SMP, dan aku salim dengan guru ku, lalu beliau tanya berapa nilai ku? Aku menjawabnya dengan malu... karena aku takut guru ku kecewa, memang rata-rata nilai ku 8, tapi dulu angka 8 itu angka yang langka untuk masuk SMA Favorit, minimal 8,5an lahh..

Tapi gurunya bilang "gapapa, kamu kan tidak menyontek. Ingat, dimanapun kamu berada, sekalipun kamu di tempat yang terang (unggulan) kamu akan tetap bersinar, orang jujur akan bersinar di akhir" 

JLEB! AAMIIN YA ALLAH..... MAKASIH IBUUU SUPPORTNYA

Aku senyum aja waktu itu, dan mengaminkannya.. 
dan ALHAMDULILLAH kejujuran ku berbuah hasil, aku masuk SMA Favorite dengan hasil jerih payah ku, bukan kunci jawaban. banyak banget nikmat-nikmat yang aku dapat dari kejujuran, Lagi-lagi kata guru ku itu bener, walau peringkat terakhir aku tetap bisa mendapatkan pengalaman yang belum pernah aku dapatkan di SD dan SMP, aku masih tetap eksis dan aku harap bintang itu akan terus bersinar kemanapun aku pergi.

Jadi sebenernya HIDUP ITU ADALAH APA YANG KITA NIATKAN.
SEKOLAH ITU RAME KOK (kalau diniatkan) hahahahaa
SEKOLAH BUAT DAPAT NILAI TINGGI (ya nanti Insyaallah tinggi, tapi habis dapet nilai tinggi ya udah ilmunya lupa deh ditaro dimana)
SEKOLAH UNTUK HIDUP (Insyaallah ilmu yang dipelajarin kepake terus di kehidupan yang masih panjang ini)

Ga cuma menyontek sih, dan aku pun pernah nyontek.. setiap nyontek malah nilai ku lebih buruk dari menjawab sendiri, darisitu aku sadar, aku bukan manusia sempurna, tapi memang faktanya kejujuran itu WAJIB. Banyak hal lain yang bisa kita jadikan pelajaran. Tapi, kebetulan masalah menyontek aku udah dapetin bukti itu langsung dari pengalaman hidup aku, dan prinsip hidup orang emang beda-beda. Ini prinsip ku, aku tidak ada maksud untuk menyinggung.

JUJUR YUK! BISA KOK!

#keepgoing #keephappy #keephonest

Ini foto gue dijadikan poster di SMA

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerpen "Cahaya Rumah"

Alur    : Maju mundur Karya  : Cherry Rabiullan Sari Diterbitkan: Koran Radar Banjarmasin Edisi : 24 - 27 April 2017 Salah satu edisi koran Radar Banjarmasin Cahaya Rumah Kukuruyukk.. ayam sudah berkokok dan Cahaya belum juga bangun, “Cahh, bangunn! Shalat subuh dulu” teriak ibu Cahaya. Guling-guling segera disingkirkan Cahaya yang jiwanya masih setengah terkumpul untuk beranjak berwudhu, adik Cahaya bernama Cahyu datang ke kamar “molor muluu mentang-mentang libur” Cahaya cuek dengan ocehan adiknya yang super jail itu. terdengar suara Ayah Cahaya yang merdu sedang mengaji di ruang tamu, menenangkan sekali. Ya, setiap selesai sholat, Ayah Cahaya selalu mengaji. Terlebih lagi ketika ekonomi Cahaya yang sedang memburuk, dulunya Cahaya adalah anak yang berkecukupan lebih, Ayah Cahaya adalah seorang supervisor  di salah satu perusahaan ternama, dan Ibu Cahaya punya toko sembako. Tetapi suatu hari perusahaan ayah Cahaya bangkrut dan ay...

Masa Lalu

 Aku tak pernah tau apa yang terjadi pada kehidupan mereka Aku tak pernah merasakan jadi orang lain, Ketika aku lelah, memberi ruang dan waktu adalah alternatif untuk merasakan hal yang nyata di hidup. Tak sengaja, hujan itu gugur mendatangi tanah. air mata itu jatuh di pipi. Masa lalu.. Setiap orang memiliki masa lalunya sendiri, kita hanyalah manusia yang terluka, terbiasa berpura-pura tertawa, seakan tak ingin seluruh dunia mengasihaninya. Bodohnya, setiap manusia itu benar-benar berbeda namun tak pernah disadari. Sadari ia bukanlah dia. aku bukanlah kamu. mereka bukanlah kita. Sifat setiap manusia itu berbeda, aku yakini hal itu karena masa lalu. Masa lalu atau perjalanan hidup benar-benar berperan terhadap masa depan Memang setiap orang mampu membuat tembok antara masa lalu ia dengan masa kini, namun menurut ku itu hanya untuk tujuan hidupnya. Dalam perjalanan hidup, setiap kita akan selalu membawa masa lalu itu, dalam artian akumulasi dari segala kejadian yang telah lalu. Mas...

Review Text about Painting

The Storm Painting Painted by             : Raden Saleh Genre                    : Romantisme             We like this painting because it has a good mean and easy to understand by every person who see this painting but the painting has dark colour, so the ships not obvious.             This painting is made on 1851 with oil paint on canvas with size 97 x 74 width. The tittle of this painting is “Badai” or “The Storm” with the genre romantisme. Actually, in this painting, the painter want to tell his feeling that confused between desire to live and ideal imagination world and real life that complicated.             In the storm painting, we can look how Raden Saleh tell...