Langsung ke konten utama

Iris

Pukul 10.12 // 28 Desember 2022

Jari-jari lentik kembali mengetik dengan rasa setitik.

Hari ini mood ku sedang kacau, jika diingat-ingat kembali... suasana ini sama seperti 4 tahun yang lalu,

pada 28 Desember 2018, dimana aku sedang bingung dan tidak tau kemana arah hidup ku selanjutnya.

Gapyear dan tidak bisa kemana-mana, duduk merenung di kamar sembari memikirkan hal yang di luar kendali ku. 

Ternyata, moment itu sudah mampu ku lewati sehingga aku bisa berani melangkah maju tanpa memperdulikan what people gonna say. 

Duduk di samping kasur dengan sprei bunga merah, sambil menonton youtube Gitasav dan para pejuang Gapyear lainnya. Kini 4 tahun kemudian, Cherry yang berbeda sedang mengerjakan skripsi/tugas akhirnya mengejar deadline agar bisa sidang di bulan Januari dan bisa lulus dalam jangka waktu 3,5 tahun dengan gelar Cumlaude.

Ada satu hal yang aku dapat dari kontemplasi ku beberapa hari ini, ternyata semua yang kita impikan itu biasa saja ya. Tidak ada hal mewah di dunia ini, apa kita kira suatu hal itu keren banget, nyatanya juga ga begitu-begitu amat.

Allah sudah menyediakan porsinya, dan semua manusia bisa menggapainya dengan segala ikhtiar dan yang paling penting adalah percaya hal itu akan terjadi.


Komentar

  1. ada tulisan baru ternyata, Semangat! :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe iyaa :) terima kasih banyak mas penyemangat ku <3

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerpen "Cahaya Rumah"

Alur    : Maju mundur Karya  : Cherry Rabiullan Sari Diterbitkan: Koran Radar Banjarmasin Edisi : 24 - 27 April 2017 Salah satu edisi koran Radar Banjarmasin Cahaya Rumah Kukuruyukk.. ayam sudah berkokok dan Cahaya belum juga bangun, “Cahh, bangunn! Shalat subuh dulu” teriak ibu Cahaya. Guling-guling segera disingkirkan Cahaya yang jiwanya masih setengah terkumpul untuk beranjak berwudhu, adik Cahaya bernama Cahyu datang ke kamar “molor muluu mentang-mentang libur” Cahaya cuek dengan ocehan adiknya yang super jail itu. terdengar suara Ayah Cahaya yang merdu sedang mengaji di ruang tamu, menenangkan sekali. Ya, setiap selesai sholat, Ayah Cahaya selalu mengaji. Terlebih lagi ketika ekonomi Cahaya yang sedang memburuk, dulunya Cahaya adalah anak yang berkecukupan lebih, Ayah Cahaya adalah seorang supervisor  di salah satu perusahaan ternama, dan Ibu Cahaya punya toko sembako. Tetapi suatu hari perusahaan ayah Cahaya bangkrut dan ay...

Masa Lalu

 Aku tak pernah tau apa yang terjadi pada kehidupan mereka Aku tak pernah merasakan jadi orang lain, Ketika aku lelah, memberi ruang dan waktu adalah alternatif untuk merasakan hal yang nyata di hidup. Tak sengaja, hujan itu gugur mendatangi tanah. air mata itu jatuh di pipi. Masa lalu.. Setiap orang memiliki masa lalunya sendiri, kita hanyalah manusia yang terluka, terbiasa berpura-pura tertawa, seakan tak ingin seluruh dunia mengasihaninya. Bodohnya, setiap manusia itu benar-benar berbeda namun tak pernah disadari. Sadari ia bukanlah dia. aku bukanlah kamu. mereka bukanlah kita. Sifat setiap manusia itu berbeda, aku yakini hal itu karena masa lalu. Masa lalu atau perjalanan hidup benar-benar berperan terhadap masa depan Memang setiap orang mampu membuat tembok antara masa lalu ia dengan masa kini, namun menurut ku itu hanya untuk tujuan hidupnya. Dalam perjalanan hidup, setiap kita akan selalu membawa masa lalu itu, dalam artian akumulasi dari segala kejadian yang telah lalu. Mas...

Review Text about Painting

The Storm Painting Painted by             : Raden Saleh Genre                    : Romantisme             We like this painting because it has a good mean and easy to understand by every person who see this painting but the painting has dark colour, so the ships not obvious.             This painting is made on 1851 with oil paint on canvas with size 97 x 74 width. The tittle of this painting is “Badai” or “The Storm” with the genre romantisme. Actually, in this painting, the painter want to tell his feeling that confused between desire to live and ideal imagination world and real life that complicated.             In the storm painting, we can look how Raden Saleh tell...