Langsung ke konten utama

Turning on 22

 22, angka yang cantik, waktu yang panjang, bersyukur masih diberi kehidupan.


perjalanan, proses, dan kenangan sudah banyak terukir. 


22,


usia yang sudah terlihat matang, walau belum tentu adanya.

menjadi remaja akhir menuju dewasa, adalah sebuah transisi yang mengesankan.

percaya pada takdir, soal masa lalu dan masa depan yang sering terpikir.


terkadang, aku bertanya, aku sudah memberi apa ya untuk kehidupan? aku sudah berkontribusi apa untuk bangsa? apa aku memang layak untuk disebut manusia? dengan hakikat manusia adalah makhluk sosial, apa aku sudah menerapkan kebaikan sosial di lingkungan sekitar ku?


jika aku tidak bisa membuat bahagia orang yang ku cintai, apa aku bisa tetap mencintai mereka? 

Jika aku tidak bisa memiliki apa-apa yang ku inginkan, apa aku bisa tetap ikhlas dan bersyukur dengan apa yang dapatkan?

jika aku selalu dirugikan oleh orang yang ku prioritaskan, apa aku masih bisa ikhlas untuk terus berbuat baik dengan mereka?


nyatanya dalam perjalanan menuju kebaikan itu, selalu ada tantangan. waktu yang terkuras banyak untuk dunia, diberi kesibukan yang tiada akhir, disakiti hatinya oleh manusia dan kemudian kehilangan. moment² itu seakan terus berulang selama hidup, hingga aku berpikir.. ah, memang inilah hidup.


Semakin kita mencari validasi manusia, malah semakin kita direndahkan dan dicaci maki oleh mereka. Seperti masalah biasa, solusi apa setelah ini agar dapat memperbaiki kesalahan? apa yang bisa ku lakukan agar dimaafkan atau diampuni? sayangnya.. hanya itu yang bisa kita lakukan.. selalu berbuat baik, tanpa mengharap imbalan. Setidaknya ada yg selalu tau isi hati dan pikiran, yaitu Tuhan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerpen "Cahaya Rumah"

Alur    : Maju mundur Karya  : Cherry Rabiullan Sari Diterbitkan: Koran Radar Banjarmasin Edisi : 24 - 27 April 2017 Salah satu edisi koran Radar Banjarmasin Cahaya Rumah Kukuruyukk.. ayam sudah berkokok dan Cahaya belum juga bangun, “Cahh, bangunn! Shalat subuh dulu” teriak ibu Cahaya. Guling-guling segera disingkirkan Cahaya yang jiwanya masih setengah terkumpul untuk beranjak berwudhu, adik Cahaya bernama Cahyu datang ke kamar “molor muluu mentang-mentang libur” Cahaya cuek dengan ocehan adiknya yang super jail itu. terdengar suara Ayah Cahaya yang merdu sedang mengaji di ruang tamu, menenangkan sekali. Ya, setiap selesai sholat, Ayah Cahaya selalu mengaji. Terlebih lagi ketika ekonomi Cahaya yang sedang memburuk, dulunya Cahaya adalah anak yang berkecukupan lebih, Ayah Cahaya adalah seorang supervisor  di salah satu perusahaan ternama, dan Ibu Cahaya punya toko sembako. Tetapi suatu hari perusahaan ayah Cahaya bangkrut dan ay...

Masa Lalu

 Aku tak pernah tau apa yang terjadi pada kehidupan mereka Aku tak pernah merasakan jadi orang lain, Ketika aku lelah, memberi ruang dan waktu adalah alternatif untuk merasakan hal yang nyata di hidup. Tak sengaja, hujan itu gugur mendatangi tanah. air mata itu jatuh di pipi. Masa lalu.. Setiap orang memiliki masa lalunya sendiri, kita hanyalah manusia yang terluka, terbiasa berpura-pura tertawa, seakan tak ingin seluruh dunia mengasihaninya. Bodohnya, setiap manusia itu benar-benar berbeda namun tak pernah disadari. Sadari ia bukanlah dia. aku bukanlah kamu. mereka bukanlah kita. Sifat setiap manusia itu berbeda, aku yakini hal itu karena masa lalu. Masa lalu atau perjalanan hidup benar-benar berperan terhadap masa depan Memang setiap orang mampu membuat tembok antara masa lalu ia dengan masa kini, namun menurut ku itu hanya untuk tujuan hidupnya. Dalam perjalanan hidup, setiap kita akan selalu membawa masa lalu itu, dalam artian akumulasi dari segala kejadian yang telah lalu. Mas...

Review Text about Painting

The Storm Painting Painted by             : Raden Saleh Genre                    : Romantisme             We like this painting because it has a good mean and easy to understand by every person who see this painting but the painting has dark colour, so the ships not obvious.             This painting is made on 1851 with oil paint on canvas with size 97 x 74 width. The tittle of this painting is “Badai” or “The Storm” with the genre romantisme. Actually, in this painting, the painter want to tell his feeling that confused between desire to live and ideal imagination world and real life that complicated.             In the storm painting, we can look how Raden Saleh tell...