Langsung ke konten utama

Cita dan Cinta


Lelah dengan keadaan, bersandar pada takdir, tidak bisa menerka masa depan. Kata-kata yang selalu diucapkan oleh seseorang yang menyerah. Perjuangan itu memang tidak ada akhir. Harusnya kita hidup memang hanya untuk berjuang, tidak ingin berjuang? yaudah mati aja, hehe.



Membahas cita dan cinta, termotivasi diri ini akan arti dari hidup.

Setelah itu elu pernah nanya ga si ke diri elu, hidup lu ini mau dibawa kemana?

mulai sini gue cerita.

gue lahir di keluarga yang sederhana, terombang-ambing karena masalah krusial bagi semua orang, yaitu duit.

gue dari kecil uda paham gimana keadaan keluarga gue. gue tinggal dengan keluarga besar di rumah nenek dan kakek, so large buat ukurannya, berhubung waktu itu kakek gue emang termasuk orang yang terpandang di daerah situ. ya gue biasa aja, wong ga ngurusin itu, dan of course ga diperbolehkan buat ikut campur.

tapi dari kecil gue udah ngalamin banyak hal, dan ga sengaja jadi terdidik untuk berpikir dewasa, dan gue kayanya kebanyakan nonton sinetron jadi gue berpikiran dari kecil untuk bisa hidup mandiri dan bisa cari uang sendiri layaknya anak-anak yang ada di FTV. orang tua gue? jelas ngelarang.

gua benar-benar bersyukur punya keluarga yang bisa bikin gue seperti sekarang, walaupun pasti selalu ada masalah di setiap umur yang dilalui, yang jelas gue merasa hidup gue ga flat, dan gue ngerasa seru sendiri aja sama idup gue yang kaya ombak, jalani aja lah intinya.

banyak yang ngira kalau gue itu anak cewe yang bisa ngedapetin semua yang gue mau. actually, its totally wrong. waktu kecil gue sering banget dimarahin nyokap ikut main ke luar rumah dan gua cuma bisa liat temen gua dari balik jendela sambil ngedumel dalam hati dan bertanya-tanya kapan gua dewasa biar gua bisa bebas dari penjara ini :)) lawak si emang wqwq

dulu waktu TK sampe lulus SD gue masih punya cita-cita jadi dokter, stigma om tante gue yang sering ngehina nyokap bokap gue yang bikin gue mikir harus jadi seseorang yang kaya raya biar bisa kaya om tante gue noh.

akhirnya gue belajar dan selalu masuk 3 besar hehe. eh nyampe SMP gue ganti cita-cita pengen jadi jurnalis, ga jadi dokter lagi, kenapa?
karena gue abis dibully ama temen gue yang katanya "Cherry ini ga bisa apa-apa",  astagfirullah entah kenapa sampai sekarang omongan dia masih nempel dan jadi motivasi gue buat buktiin ke dia kalau gue bisa kaya mba Najwa Shihab dan dia bakal tarik omongannya.
di SMP gue belajar banyak public speaking dan berorganisasi, hingga akhirnya gue nemuin satu cowo yang nemenin gue sampe lulus SMA.

Nah, di SMA kebetulan ada ekskul jurnalis, ikut lah gue dan akhirnya gue jadi ketua, impian gue buat jadi seseorang seperti mba Nana kayanya makin deket wkwk. Temen-temen gue juga pada percaya, if i could be a great journalism soon. but...

gua gapyear.

abis lulus SMA gua ga langsung kuliah, hidup gua kembali jatuh, orang-orang berpikiran "what? Cherry ga kuliah?" waw, so stressfull for me :') ekspektasi orang-orang terlampau tinggi ke gue. tapi dari sinilah semuanya berubah, mindset gue, hidup gue, tujuan hidup gue. gue ga lagi mikir kalo tujuan hidup gue itu untuk pembuktian kepada orang-orang yang telah ngerendahin gua dan ortu gue. gua juga ga mikir lagi kalo omongan orang tentang gue adalah yang terpenting.

gue belajar untuk nerima segalanya, apapun tentang gue yang dikasih Allah SWT, gue jadiin itulah kebanggan gue dan gue yang bikin standarisasi kehidupan gue bukan gue yang ngikutin standarisasi orang.

Akhirnya gue ga lagi punya cita-cita yang jelas, dokter, polwan atau jurnalis(?) gue ga expect itu lagi.

sekarang cita-cita gue lebih kepada kebermanfaatan gue di segala sudut, mau itu di rumah, kampus, sekolah, masyarakat, sahabat, bahkan followers gue. nyatanya, ga ada cita-cita yang haqiqi, semua profesi itu cuma jembatan kita menuju keberkahan, gaji kita itu jembatan untuk menolong sesama, semakin banyak kita punya duit semakin banyak pula kita menebar kebermanfaatan. itu mindset gue.

dan masalah cinta? gue yang udah pernah ngerasain 3,5 tahun hubungan asmara ngerasa kalau itu ga ada guna, apalagi kalau kita masih sekolah. ga ada yang gue sesalin sih, tapi nyatanya ga ada cinta sejati selain cinta Allah dan orang tua. Cinta yang kita dapat di saat kita belum siap menikah itu adalah anugerah dari Allah kalau punya perasaan itu boleh aja, artinya kita tau kalau Allah memberi perasaan itu, nyatakan jika kita sudah siap untuk menikah, diam lah jika kita belum siap untuk bertanggung jawab.

cita dan cinta itu punya pengaruh dan saling bersinergi di dalam kehidupan elo, jangan sampai cita lo kandas ketika lo salah mempersepsikan cinta. jangan sampai cinta lo kandas ketika lo egois dengan cita.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerpen "Cahaya Rumah"

Alur    : Maju mundur Karya  : Cherry Rabiullan Sari Diterbitkan: Koran Radar Banjarmasin Edisi : 24 - 27 April 2017 Salah satu edisi koran Radar Banjarmasin Cahaya Rumah Kukuruyukk.. ayam sudah berkokok dan Cahaya belum juga bangun, “Cahh, bangunn! Shalat subuh dulu” teriak ibu Cahaya. Guling-guling segera disingkirkan Cahaya yang jiwanya masih setengah terkumpul untuk beranjak berwudhu, adik Cahaya bernama Cahyu datang ke kamar “molor muluu mentang-mentang libur” Cahaya cuek dengan ocehan adiknya yang super jail itu. terdengar suara Ayah Cahaya yang merdu sedang mengaji di ruang tamu, menenangkan sekali. Ya, setiap selesai sholat, Ayah Cahaya selalu mengaji. Terlebih lagi ketika ekonomi Cahaya yang sedang memburuk, dulunya Cahaya adalah anak yang berkecukupan lebih, Ayah Cahaya adalah seorang supervisor  di salah satu perusahaan ternama, dan Ibu Cahaya punya toko sembako. Tetapi suatu hari perusahaan ayah Cahaya bangkrut dan ay...

Masa Lalu

 Aku tak pernah tau apa yang terjadi pada kehidupan mereka Aku tak pernah merasakan jadi orang lain, Ketika aku lelah, memberi ruang dan waktu adalah alternatif untuk merasakan hal yang nyata di hidup. Tak sengaja, hujan itu gugur mendatangi tanah. air mata itu jatuh di pipi. Masa lalu.. Setiap orang memiliki masa lalunya sendiri, kita hanyalah manusia yang terluka, terbiasa berpura-pura tertawa, seakan tak ingin seluruh dunia mengasihaninya. Bodohnya, setiap manusia itu benar-benar berbeda namun tak pernah disadari. Sadari ia bukanlah dia. aku bukanlah kamu. mereka bukanlah kita. Sifat setiap manusia itu berbeda, aku yakini hal itu karena masa lalu. Masa lalu atau perjalanan hidup benar-benar berperan terhadap masa depan Memang setiap orang mampu membuat tembok antara masa lalu ia dengan masa kini, namun menurut ku itu hanya untuk tujuan hidupnya. Dalam perjalanan hidup, setiap kita akan selalu membawa masa lalu itu, dalam artian akumulasi dari segala kejadian yang telah lalu. Mas...

Review Text about Painting

The Storm Painting Painted by             : Raden Saleh Genre                    : Romantisme             We like this painting because it has a good mean and easy to understand by every person who see this painting but the painting has dark colour, so the ships not obvious.             This painting is made on 1851 with oil paint on canvas with size 97 x 74 width. The tittle of this painting is “Badai” or “The Storm” with the genre romantisme. Actually, in this painting, the painter want to tell his feeling that confused between desire to live and ideal imagination world and real life that complicated.             In the storm painting, we can look how Raden Saleh tell...