Mungkin kebanyakan orang atau hampir semuanya malah berpikir "ih apaan si, sok ngambil gapyear segala. Udah buang-buang umur, ntar kuliahnya juga belum tentu berhasil"
Well, waktu awal-awal gap, aku mikirin itu omongan orang semuanya, sempat ngerasa insecure dan ngerasa diri ini sangat bodoh.
Belum lagi ditambah quotes-quotes di sosial media tentang -orang yang gagal adalah orang yang malas dan tidak berjuang- . Disitu ku merasa semakin sedih.
Gue belum bisa mikir panjang tentang kegagalan dan belum bisa mendefinisikan kegagalan dari perspektif yang berbeda.
Gue kira hidup gue cuma sampai SMA, gue kira abis ini gue ga sanggup lagi hidup di dunia.
Saking insecurenya gue tentang range kehidupan yang berbeda dari yang lain.
Gue mutusin gapyear setelah gue tau ga diterima di Poltekkes Kemenkes Kalsel.
Gue ikut tes Poltekkes setelah gue tau gue gagal di SBMPTN dan ga ada niatan ikutan mandiri, tes Poltekkes itu barengan sama pengumuman tes kesehatan IPDN.
Dan yaa..... Setelah gue pulang tes, gue liat pengumuman nama gue ga ada di daftar kelulusan tes kesehatan IPDN.
Udah lesu , lemes , tapi gue tetap ketawa. Karena gue udah nyangka sebelumnya.
Dan gue langsung tanya-tanya sama temen gue tentang berapa orang yang diterima di poltekkes, waktu gue denger kalau yang diterima itu 1:100 dari yang daftar.. its okela.. gue pasrah.
Dan bener aja, tulisannya di papan pengumuman poltekkes gue lulus cadangan ranking 14 tapi yang diterima cuma 10.
Polosnya lagi, walaupun cadangan tetap aja yang cadangan disuruh ikut tes kesehatan gitu -siapa tau lulus- , hahaha:)))) kebiasaan Cherry suka ngarep sama hal yang kemungkinannya kecil.
Selama menunggu pengumuman itu, gue udah mikir si kalau gue bakal gapyear, dan gue udah nverancang apa aja yang gue lakuin, disinilah titik dimana gue memandang kegagalan dari perspektif yang berbeda.
Menurut gue, kegagalan itu bisa jadi suatu hal yang luar biasa kalau kita mandangnya dari sisi yang positif.
Disaat gue gagal, gapyear dan ngerasa ketinggalan dari temen-temen gue yang udah keterima kuliah di PTN maupun PTS.
Disitu gue bertekad, gue HARUS punya suatu hal yang ga didapetin sama temen-temen gue yang udah kuliah, gue punya kebanggaan.
Dan awalnya tekad gue adalah menghafal Al-Qur'an dengan ikut Sekolah Tahfidz Ar-Rasyid.
• Kenapa harus sekolah tahfidz?
Aku sadar, apa yang terjadi dalam hidup kita sekarang adalah buah dari apa yang kita lakukan sebelumnya. Bagaimana kita di masa depan tergantung dengan perjuangan kita sebelumnya.
Hingga aku sadar, aku memang banyak dosa, dan aku mencari tujuan hidup ku. Di umur ku yang masih 18 tahun -saat itu-.
Aku berniat dengan mengikuti sekolah Tahfidz, aku bisa lebih mencintai Al-Qur'an, lebih mengenal Al-Qur'an, dan mengobati kesedihan jiwa ku atas semua kegagalan yang ku alami, walaupun sampai sekarang aku masih bingung apa jawaban dari semua ini.
Tapi aku yakin Allah sudah mengatur semuanya.
Tugas ku hanya berusaha terus menjadi lebih baik dari jalan hidup versi yang Allah berikan.
Jika aku ditakdirkan gapyear, maka jadikan tahun gapyear ku ini tahun yang terbaik, tahun ku berinvestasi untuk masa depan, tahun dimana aku mendapatkan banyak kejutan hidup yang ga pernah aku terima saat masa sekolah.
Tahun yang akan ku bangga-banggakan dan ku kenang sepanjang hidup ku nanti.
Maka dengan Bismillah aku coba datang dan mendaftarkan diri ke sekolah itu. Alhamdulillah , untuk sekolah ini aku diterima :D -yaiyalah- wkwkkw
• Kenapa sekolah Tahfidz Ar-Rasyid?
Jadi kepikiran mau ikut sekolah Tahfidz sebenernya udah lama, udah semenjak habis UN SMA yang dimana anak-anak pada nganggur. Waktu itu keponakan ku yang ngaji di sana setiap sore, tapi itu khusus anak SD. Lokasinya dekat dengan rumah ku, dan katanya disana juga buka untuk umum tapi setiap pagi pukul 8. Dari situlah, aku memilih sekolah ini dan tertarik memulai perjalanan gapyear dari sini.
• Awal daftar
Hari Senin pukul 8, aku lupa tanggal berapa. Yang jelas aku sudah pernah mencoba datang dan ingin mendaftar tapi selalu malu dan putar balik, hahaha:)) mental ku ciut sekali. Hingga akhirnya aku WhatsApp dulu admin sekolah Tahfidznya. Ketika datang dan disana ada satu laki-laki yang sedang duduk, sepertinya itu Pak Ustadznya. Aku pun mengucapkan salam dan memperkenalkan diri, lalu datang seorang ibu yang sepertinya usianya masih sepantara dengan mamah ku, namanya Ibu Nuril -beliau yang punya sekolahnya- , lalu datang lagi seorang Nenek, nama beliau Nenek Rusmini, tapi biasanya ku panggil Nini Rusmini karena orang Banjar biasanya menyebut E itu I. Hehe. Hihi.
Setiap pagi aku mengaji dan menghafal Al-Qur'an dengan beliau bertiga, sempat ada satu wanita yang juga ikutan ngaji, tapi ga lama berhenti, dan aku lupa namanya.
Setiap pagi aku mengaji dan menghafal Al-Qur'an dengan beliau bertiga, sempat ada satu wanita yang juga ikutan ngaji, tapi ga lama berhenti, dan aku lupa namanya.
Disana aku belajar banyak hal , mulai dari ilmu agama hingga kisah-kisah kehidupan lain yang sedang dialami oleh Ibu Nuril, Nini Rusmini juga Pa Ustadz, dan berita terkini.
Aku mendapatkan banyak ilmu dan kenalan disana. Tak pernah ku sangka aku bisa berkenalan dengan beliau semua. Selain itu Nini Rusmini juga punya anak namanya Ka Yeyen. Aku sempat diajak pergi ke kajian bersama dengan Nini Rusmini dan Ibu Nuril juga Ka Yeyen. Kami bertukar nomor whatsapp.
Sejak saat itu kami sering bertukar kabar, dan kembali diluar ekspektasi, aku bersekolah disana hanya 3 bulan. Setelahnya, ada kegiatan lain yang ku isi setiap paginya.
Yang jelas, aku sangat senang dan bersyukur dipertemukan dengan orang-orang yang mungkin tidak bisa semuanya ku ingat namun akan selalu ku doakan yang terbaik untuk beliau semua. Di sekolah ini aku mulai mengubah tujuan dan arah hidup ku hanya untuk menjadi muslimah versi terbaik dan lebih baik dari diri ku yang sebelumnya.
Ternyata, gapyear bukan berarti bodoh. Tapi gapyear bakal jadi sebuah investasi kesuksesan masa depan jika berani menatap segala masalah dari sudut pandang solusi.
Cerita selanjutnya ada di Pengalaman Gapyear #2

Komentar
Posting Komentar