Youth Agricareture adalah program social project dari organisasi International Association of Students in Agricultural and Related Sciences atau biasa disingkat IAAS. IAAS adalah Organisasi pertanian terbesar di dunia dan memiliki anggota di 40 negara di dunia termasuk di Indonesia, setelah itu dibagi lagi menjadi beberapa local committe, salah satunya yaitu local committe Universitas Lambung Mangkurat. IAAS juga melakukan aksi dan solusi masalah pertanian di Indonesia salah satunya adalah dengan program Youth Agricareture 2018.
Youth Agricareture tahun ini diberi tema Food Diversification atau diversifikasi pangan. Yang dimaksud dengan diversifikasi pangan adalah penganekaragaman pangan. Alam diciptakan dengan begitu luasnya oleh Allah SWT. Semua pasti ada maksud dan kegunaannya, diversifikasi pangan menjawab itu, bahwa manusia masih bisa memenuhi kebutuhan pangannya walaupun tidak selalu makan nasi. Banyak pangan lokal yang berpotensi menjadi pangan pokok selain nasi, diantaranya seperti ubi-ubian, jagung, sagu, dan talas.
IAAS LC ULM mengangkat pangan lokal ubi jalar varietas Alabio sebagai penganekaragaman pangan di Kalimantan Selatan. Selain itu, program ini juga mengacu pada hal yang lebih penting lagi, yaitu Teori Robert Malthus yang menyatakan “Laju pertumbuhan penduduk itu seperti deret ukur, dan laju pertumbuhan pangan seperti deret hitung”. Yang artinya laju pertumbuhan penduduk lebih cepat dibandingkan laju pertumbuhan pangan. Maka dari itu Youth Agricareture bertujuan untuk menjawab tantangan Teori Malthus tersebut dan meningkatkan kepedulian pemuda khususnya di bidang pertanian.
Ubi jalar varietas Alabio mempunyai banyak kandungan, seperti vitamin dan karbohidrat. Selain itu ubi ini dapat divariasikan menjadi berbagai macam makanan, maka dari itu IAAS LC ULM dengan para sukarelawan yang terpilih untuk mensosialisasikan ke khalayak dengan program Youth Agricareture.
Stories
GOES TO SCHOOL
Youth Agricareture merupakan program sosial yang bertujuan untuk membangun kepedulian pemuda/i di bidang pertanian. Sudah pasti di dalam program ini melibatkan banyak pemuda/i baik dari volunteer maupun umum. IAAS menyeleksi pemuda/i daerah untuk menjadi volunteer agar turut serta merasakan dan mendapatkan pengalaman bersama member IAAS dan membantu menyukseskan acara terbesar di organisasi ini. IAAS mengadakan program pertama yaitu Youth Agricareture Goes to school dimana para volunteer yang dominasinya adalah mahasiswa/i akan bercengkerama dan berdiskusi tentang masalah dan solusi di bidang pertanian bersama siswa/i. IAAS LC ULM memilih SMAN 2 Banjarbaru sebagai sekolah yang dikunjungi untuk rangkaian acara Youth Agricareture berhubung SMAN 2 Banjarbaru adalah sekolah Adiwayata. Ada 25 orang siswa/i perwakilan dari OSIS dan MPK SMAN 2 Banjarbaru yang berpartisipasi dalam acara ini, dan ada 19 orang volunteer yang membimbing dan menemani siswa/i terpilih SMAN 2 Banjarbaru.
Secara umum, rangkaian acara ini tidak kurang dan tidak lebih seperti seminar atau talkshow yang sering diikuti mahasiswa/i , para volunteer dan siswa/i diperkenalkan pada organisasi IAAS, disesi ini pembicaranya adalah salah satu member IAAS LC ULM yaitu Ka Muna. IAAS ada sejak perang dunia kedua yang berawal dari kekhawatiran orang-orang akan pangan dan pertanian pada era itu. Setelah perkenalan organisasi IAAS dan programnya, dilanjutkan dengan sesi penjelasan tema Youth Agricareture tahun ini yaitu optimizing with Ubi Alabio oleh salah satu member IAAS LC ULM pula, ka Irpan. para partisipan dianjurkan untuk menyimak dan menanyakan hal-hal yang kurang jelas tentang pentingnya diversifikasi pangan dan kandungan Ubi Alabio itu sendiri. Hingga sampai pada sesi yang ditunggu-tunggu yaitu sesi FGD (Forum Group Discussion) yang dimoderatori oleh ka Decky selaku member IAAS LC ULM angkatan 2016.
Pada Forum Group Discussion ini 25 orang siswa/i dibagi menjadi 5 kelompok. Satu kelompok berjumlah 5 orang siswa dan 4 atau 5 orang volunteers. Ka Decky memberikan sebuah pernyataan dan pertanyaan dari SDGs dan tugas para volunteer adalah membimbing para siswa/i dikelompoknya agar mereka bisa menjawab dan membuka pikiran tentang hal diversifikasi pangan.
Dimulai dari masalah kelaparan yang sudah parah khususnya di Afrika dan tak lupa pula di negeri sendiri pun masih banyak orang yang kelaparan dan kekurangan makanan, apa yang salah dengan hal itu dan bagaimana cara mengatasinya. Saya bersama dengan Ka Bara, Elsa, dan Ami membantu para adik-adik untuk menyampaikan hal yang serius dan dapat terealisasi untuk membantu orang-orang kelaparan, dengan cara produksi dan konsumsi secara bertanggung jawab, salah satunya adalah jangan membuang-buang makanan, karena hal itu akan berujung besar dan memberikan dampak yang sangat buruk apabila dilakukan sedikit demi sedikit dan terus menerus. Alangkah baiknya, jika hal ini dapat dikurangi dari niat diri sendiri dan selanjutnya bisa menyebar kepada orang di sekitar kita. Selain itu adapula program sosialisasi seperti yang dilakukan IAAS pada Youth Agricareture ini dan program Rice Free Day, dimana pada hari itu setiap orang dianjurkan untuk tidak memakan nasi sehari, agar nasi yang kita konsumsi tiga kali sehari dapat kita hemat juga dapat mengurangi kekhawatiran padi yang semakin menipis.
Hal yang kedua yaitu bagaimana caranya memarketingkan sebuah produk agar program ini dapat berjalan yaitu dengan cara mengolah pangan lokal menjadi sebuah makanan khas, atau makanan penutup dan cemilan yang banyak diminati warga sekitar seperti keripik, kelepon, bolu, dll. Dengan memanfaatkan pangan lokal artinya untuk orang-orang lokal pula lah yang diutamakan mengonsumsi pangan tersebut walau pada tujuan akhirnya juga dapat dikonsumsi oleh seluruh masyarakat di dunia.
Setelah Forum Group Discussion atau FGD session, para partisipan dipersilakan menuju ke luar ruangan untuk sesi outdoor, pada sesi yang dibawakan oleh ka Aji Hermawan ini seluruh partisipan termasuk panitia dan guru SMAN 2 Banjarbaru membentuk lingkaran, lalu ka Aji menjelaskan sekaligus mempraktekkan bagaimana cara menanam dan membudidayakan bawang dayak. Tidak sulit, pertama-tama bawang dayak dipotong bagian antara tunas dan badannya, lalu yang ditanam adalah bagian badannya, ketika menanam jangan sampai tanah pupuk menutupi bagian atas dari badan yang telah dipotong tunasnya, lalu rawat hingga kurang lebih 8 bulan atau lebih sampai baang dayak bisa dipanen. Tanaman bawang dayak ini dapat diolah menjadi teh dan berkhasiat menjadi obat orang yang mengidap hipertensi, maka dari itu tidak dianjurkan untuk orang yang mengidap anemia meminum teh bawang dayak terlalu banyak. Saya dan 5 orang teman volunteer lainnya berkesempatan untuk belajar menanam secara langsung bawang dayak di polyback bersama siswa/i di halaman SMAN 2 Banjarbaru. Tanaman bawang dayak yang sudah ditanam bersama teman-teman diberikan kepada SMAN 2 Banjarbaru sebagai simbolis dan bentuk nyata dari kerja sama IAAS LC ULM dengan SMAN 2 Banjarbaru. Sesi ini juga sesi penutup rangkaian acara Youth Agricareture Goes To School. Tak lupa pula untuk foto bersama itu adalah hal yang wajib dilakukan untuk dokumentasi. Kesan saya pada satu hal adalah sertifikat. Para siswa/i yang mengikuti serangkaian acara mendapatlan sertifikat yang dahulu sering saya ikuti tapi tak diberikan sertifikat. Strategi yang apik untuk memberikan sebuah apresiasi dan kenang-kenangan tak hanya pada sekolah tapi juga pada siswa/inya.
Rangkaian acara yang kedua Youth Agricareture 2018 adalah social campaign, social campaign ini adalah bentuk pergerakan para pemuda untuk mensosialisasikan betapa pentingnya diversifikan pangan dan cara memproduksi dan mengonsumsi pangan secara bertanggung jawab. Para volunteer diberikan tantangan untuk membuat suatu kampanye berbentuk video yang berdurasi minimal 30 detik dan diunggah di sebuah aplikasi media sosial yang sedang digandrungi para pemuda yaitu instagram. Tantangan ini disebut dengan #AJIChallenge atau kepanjangannya yaitu A Jazzy Idea Challenge. Video tersebut dapat berupa ajakan untuk mengikuti tantangan ini atau menjelaskan isu-isu diversifikasi pangan.
Pada kampanye ini saya membuat dua video yang berdurasi 30 detik. Video pertama berkonsep cerita pendek tentang dua orang teman yang mempraktekkan masalah kelaparan pada jaman sekarang akibat terpakunya pangan pada satu buah pangan saja, yaitu padi. Video kedua saya mengambil cuplikan video dari channel youtube english conversation dan didubbing dengan suara saya yang menjelaskan apa pengertian dari diversifikasi pangan. Kedua video tersebut saling berhubungan tetapi dengan konsep yang berbeda.
Social campaign tidak hanya dilaksanakan pada media sosial saja, IAAS LC ULM mengadakan talkshow agar materi dan paparan yang telah tersebar di media sosial dapat lebih dijelaskan oleh para ahlinya di talkshow. Talkshow ini daoat diikuti oleh seluruh masyarakat umum dari pelajar SMP hingga Mahasiswa/i. Talkshow dipandu oleh ka Jaka dan ka Novita, dan narasumber pada talkshow ini adalah Dosen Fakultas Pertanian ULM dan Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Kalimantan Selatan. Beliau menjelaskan tentang pentingnya ketahanan pangan dan potensi pangan lokal.
Para hadirin pun disuguhkan dengan makanan snack yang diolah dari Ubi jalar varietas alabio. Di akhir acara pun diumumkan pemenang A Jazzy Idea Challenge, saya tidak menyangka mendapatkan juara pertama dan teman saya Elsa Pranadila mendapatkan juara kedua. Saya sangat puas dengan sejumlah agenda Youth Agricareture 2018.
Puncak acara dari Youth Agricareture 2018 adalah Goes to VCP. Rangkaian acara yang menurut saya sangat apik dan ditunggu-tunggu karena pada saat inilah para volunteer mempraktekkan langsung materi-materi yang telah diberikan selama kurang lebih seminggu. Sebelumnya, para volunteer briefing di kampus ULM dan berangkat sama-saa menuju Komplek Al-Ichwan. Di komplek inilah kami melakukan serangkai kegiatan mulai dari menanam Ubi Alabio di lahan komplek yang sudah disiapkan hingga bercengkerama pada warga sekitar.
Tak hanya Volunteer namun para member baru IAAS LC ULM pun mengikuti kegiatan ini, sehingga lingkar pertemanan semakin luas lagi. Perwakilan dari warga komplek Al-Ichwan untuk mengisi acara dan memandu cara budi daya ubi jalar varietas Alabio dan bawang dayak adalah Bapak Joko. Setelah kami diberikan sambutan dan materi, kami berjalan menuju lahan dengan kelompok masing-masing ditambah dua anggota baru IAAS untuk menanam Ubi Alabio.
Setelah menanam kami beralih ke lahan disebelahnya untuk melihat secara langsung pertumbuhan tunas bawang dayak dan mempraktekkan kembali cara menanamnya. Setelah penanaman, kami kembali ke tempat duduk untuk mendengarkan instruksi selanjutnya, dan kami diberikan kesemoatan untuk pergi membawa dua tanaman bawang dayak di polyback untuk dibagikan kepada warga komplek sekaligus berkenalan dan bersilaturahmi. Kelompok dua yang beranggotakan saya, Elsa, Ka Bara, Nurhalimah, dan Glorya pergi ke jalan cahaya 1, sempat bingung ingin menyinggahi rumah yang mana, antara takut dan malu. Akhirnya kami memilih rumah yang sedang menjual ice cream mochi. Karena terlalu fokus untuk memberikan bawang dayak dan memperkenalkan diri sendiri kami sampai lupa menanyakan nama Ibu tersebut. Hal yang tak boleh dilupakan setelah itu adalah foto bersama.
Selesai bercengkerama dengan warga sekitar, para kaka member IAAS selalu memberikan kejutan untuk kami, yaitu kolak. Para volunteer diajarkan atau diberikan demo bagaimana cara membuat kolak bercampur dengan ubi, tak hanya itu kami pun disuguhi kolaknya juga minuman teh bawang dayak. Jangan lupa snapfood. Setelah menikmati hidangan, kami saling berbagi cerita, kesan dan pesan atas apa yang telah dilalui selama kurang lebih seminggu, indah.
Ucapan terima kasih pun disampaikan oleh para panitia untuk para volunteer yang berkenan selalu hadir untuk menyukseskan acara yang hebat ini. Acara ini ditutup dengan halal bihalal juga foto bersama yang tak pernah ada habisnya.
Saya sering menjadi relawan, tapi Youth Agricareture adalah kegiatan relawan saya yang pertama menggunakan tahap seleksi. Walaupun saya berbeda dengan para volunteer yang lain yang sudah menjadi mahasiswa/i, tapi panitia tetap memilih saya dan mempercayakan saya untuk bisa bergabung. Teman-teman volunteer juga para panitia pun sangat baik dan tidak pernah mendiskriminasi saya, bahkan mereka selalu menghargai dan mengapresiasi apa yang saya lakukan. Kegiatan ini tidak hanya menjadi sebuah kenangan, tapi ajang silaturahmi juga beramal dan pastinya membawa kebahagiaan juga perubahan untuk masa depan. Walaupun saat ini dampak yang besar belum terlihat, tapi suatu saat karena orang-orang yang mempunyai visi dan misi yang sama untuk membangun bangsa yang lebih baik itulah yang akan menjadi bagian dari sejarah.
Semoga organisasi ini akan terus berkembang dan menjadi lebih baik khususnya IAAS Local Committe ULM. Semoga acara Youth Agricareture tahun 2019 lebih baik dan lebih menarik perhatian warga, dan para volunteer yang tak kalah hebatnya. Saya merasa saya sudah memiliki keluarga baru dengan para volunteer juga panitia disini. Saya juga berterima kasih banyak telah dinobatkan sebagai volunteer terbaik YACT 2018 IAAS LC ULM.





permisi kaka, mau bertanya. tentang alasan kaka ikut kegiatan sebagai relawan ini apa ka? point terakhir tentang yang membedakan kaka itu apa ya? wkwkw... thank atas inspirasinya
BalasHapusHaloo Roni, alasan ku ikut kegiatan ini karena aku ingin menambah rasa kemanusiaan ku juga, karena menjadi relawan itu adalah kegiatan nonprofit walaupun banyak menyita waktu dan tenaga. tapi bagiku balasan sebagai volunteer itu ada di hati, ada di dalam kedamaian mu bahwa kamu telah menjadi manusia sesungguhnya. yang membedakan aku dari volunteer yang lain saat itu adalah aku satu-satu anak gapyear yang belum menginjak bangku kuliah alias bisa dibilang pengangguran, dan bukan warga ULM saat itu. jadi, aku sangat bahagia, apalagi ketika dinobatkan menjadi volunteer terbaik, hehe yuk ikutan YACT 2019!! ;)
BalasHapus