Langsung ke konten utama

My friend is such a badass, what do you think?



Barusan aja gua ditanya tentang "gimana perasaan elo saat digosipin badass  gara-gara temen lo badass?"
Ok. Allah SWT bener-bener sayang sama gue karena pernah ngasih gue kejadian persis kayagini. Lagi-lagi karena mulut harimau netizen.
Gue bersyukur because gue banyak banget dapetin pelajaran hidup selama 17 tahun, dan mungkin gue bakal dapetin pelajaran hidup yang ga kalah keren nanti, pelajaran hidup itu bukan tentang masalah hidup aja ya. Pelajaran hidup itu tentang bagaimana kita bisa ngambil semua hikmah dari setiap kejadian di dalam hidup, dan kita bisa memperbaiki diri juga tau keputusan apa yang harus kita pilih di kemudian hari. Do you agree?

"Misalnya, teman lo digosipin, dan gosipnya itu sangat menjatuhkan dia dan bikin orang-orang jadi envy temenan sama dia dan dia sendiri membenarkan gosip itu. Apakah kamu masih ingin berteman sama dia? Kenapa?"

Hmmm thats realityy, gua pernah merasakan itu... setiap gua punya teman pasti ada aja gosip negatifnya. Kalau gua sihhh, gua masih berteman, dan masih ingin berteman. Because, thats her problem. Bukan masalah hidup gua, walaupun dia teman gua, tapi urusan tetap masing-masing. and i know banyak netizen nyinyir "kenapa masih mau berteman?" "Temenan sama dia itu kampungan(engga banget) kok ceri mau sih?" Blaaablaaablaaa
Ya kalau temen gua yang kena gosip negatif itu hatinya sensitif, gua bakal diem, dan pelan-pelan bilangin dia.. dan of course, gua cari tau tentang sudut pandang dia kenapa dia jadi begitu.. alhasil, positive thinking yang didapat..
Dan ini gunanya sifat tegas, tegas dalam memilih lingkungan, memilih arah hidup, memilih siapa yang kita ikuti jalannya. Berteman bukan berarti selalu bilang "iya" berteman itu menemani, bukan mendampingi, maka dari itu kalau dia sudah mengajak hal yang 'negatif' dan kita harus bilang 'engga' ga usah takut dia marah, dibandingkan hidup kita dibawa arus yang ga bener. Dan kalau temen itu lambat laun memberikan sisi negatif, gua secara pribadi menjauh. Gua kontrol gimana caranya biar ga menyinggung pilihan hidupnya,
Tapi kalau temennya ga sensitif, ya biasanya gua berbicara dengan bener-bener dan kasih tau dia jalan yg benar (menurut gua) ya tentunya kalau dia ngelak, gua mikir juga, dimana salahnya gua.. biar saling introspeksi diri.
Kita hanya teman, bukan pengikutnya.
Dan saat kayagini, integritas dan identitas kita terlihat.
Makanya, kita ga boleh melakukan semua itu berlebihan kan? Termasuk pertemanan.
Jadi tugas teman itu pasti menemani, ya menemani ke arah yg benar.. beda sama mendampingi, kalau mendampingi tuh ya kaya ngikut gitu... menurut gua, makanya kalau suami istri kan pasti semuanya jadi satu.
Masalah suami ya masalah istri.
Masalah anak ya masalah ortu juga.
Karena ortu mendampingi anak.

Beda sama temen, "masalah elo, pilihan hidup elo, yang penting gue udah ngasih tau pendapat gua, dan terserah lo mau gimana" kita ga ada hak buat maksa dia.

Tapi kalau memang bener gosip itu diakuin sama dia, dan dia ga mau berubah dan dia malah ngajak kita begitu juga, mungkin kita bisa jaga jarak lahh sama dia..

Karena “Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR Bukhari 5534 dan Muslim 2628)

Gua pernah dapat temen-temen yang digosipin negatif dan ya... ada yang bener ada yang engga... kebanyakan itu semua cuma fitnah dan gua kira sebuah kesetiaan selagi dia membawa sisi positif ke hidup kita, itu lebih mulia. Dibandingkan kita mengikuti arus mulut harimau manusia? :)

Mulai dari Bismillah....
#keepgoing #keeppositive

Inspired by chat with Safira Ghassani Shabrina

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerpen "Cahaya Rumah"

Alur    : Maju mundur Karya  : Cherry Rabiullan Sari Diterbitkan: Koran Radar Banjarmasin Edisi : 24 - 27 April 2017 Salah satu edisi koran Radar Banjarmasin Cahaya Rumah Kukuruyukk.. ayam sudah berkokok dan Cahaya belum juga bangun, “Cahh, bangunn! Shalat subuh dulu” teriak ibu Cahaya. Guling-guling segera disingkirkan Cahaya yang jiwanya masih setengah terkumpul untuk beranjak berwudhu, adik Cahaya bernama Cahyu datang ke kamar “molor muluu mentang-mentang libur” Cahaya cuek dengan ocehan adiknya yang super jail itu. terdengar suara Ayah Cahaya yang merdu sedang mengaji di ruang tamu, menenangkan sekali. Ya, setiap selesai sholat, Ayah Cahaya selalu mengaji. Terlebih lagi ketika ekonomi Cahaya yang sedang memburuk, dulunya Cahaya adalah anak yang berkecukupan lebih, Ayah Cahaya adalah seorang supervisor  di salah satu perusahaan ternama, dan Ibu Cahaya punya toko sembako. Tetapi suatu hari perusahaan ayah Cahaya bangkrut dan ay...

Masa Lalu

 Aku tak pernah tau apa yang terjadi pada kehidupan mereka Aku tak pernah merasakan jadi orang lain, Ketika aku lelah, memberi ruang dan waktu adalah alternatif untuk merasakan hal yang nyata di hidup. Tak sengaja, hujan itu gugur mendatangi tanah. air mata itu jatuh di pipi. Masa lalu.. Setiap orang memiliki masa lalunya sendiri, kita hanyalah manusia yang terluka, terbiasa berpura-pura tertawa, seakan tak ingin seluruh dunia mengasihaninya. Bodohnya, setiap manusia itu benar-benar berbeda namun tak pernah disadari. Sadari ia bukanlah dia. aku bukanlah kamu. mereka bukanlah kita. Sifat setiap manusia itu berbeda, aku yakini hal itu karena masa lalu. Masa lalu atau perjalanan hidup benar-benar berperan terhadap masa depan Memang setiap orang mampu membuat tembok antara masa lalu ia dengan masa kini, namun menurut ku itu hanya untuk tujuan hidupnya. Dalam perjalanan hidup, setiap kita akan selalu membawa masa lalu itu, dalam artian akumulasi dari segala kejadian yang telah lalu. Mas...

Review Text about Painting

The Storm Painting Painted by             : Raden Saleh Genre                    : Romantisme             We like this painting because it has a good mean and easy to understand by every person who see this painting but the painting has dark colour, so the ships not obvious.             This painting is made on 1851 with oil paint on canvas with size 97 x 74 width. The tittle of this painting is “Badai” or “The Storm” with the genre romantisme. Actually, in this painting, the painter want to tell his feeling that confused between desire to live and ideal imagination world and real life that complicated.             In the storm painting, we can look how Raden Saleh tell...